Cita-cita di tahun baru:

- Pass the IT-IL Foundation Exam, after 4 days training last year @ inixindo. Thanks Pak Didik for the course!

- Joint the CISA Exam Preparation Class @ fasilkom UI (depend on the contents of the wallet :p)

Welcome 1429 H!

Ruang makan MTI UI yang jadi mirip lab komputer ?. (Photo by Tony)

copy-of-img_0740.jpg

Menyambung tulisan gue sebelumnya

Kalau baca dari judulnya udah ketahuan akhirnya gue pilih Ubuntu. Jadi anti klimax, tapi ga masalah, bukan hasil akhirnya yang penting, tapi proses mencapainya.

Karena termasuk paranoid kalau data2 gue hilang atau XP gue ga bisa diakses, maklum eksperimen pakai komputer buat kerja hari-hari, akhirnya gue siapin satu USB 20 GB khusus untuk eksperimen ini. Jadi ada 1 internal HDD dan 1 USB HDD.

Pertama kali gue coba jalanin E-live, menunya menurut gue agak aneh, jendelanya berbentuk segi berapa gitu dengan desain futuristik, wah, kriteria gue agar GUI ga jauh-jauh dari XP ga masuk nih untuk distro ini. Maklum gapnux, maunya yang biasa aja, ga macam2 + aneh2. Akhirnya gue putusin ga jadi nyoba E-live. Dadah babay …

Giliran PCLinuxOS yang gue coba. Pas pertama jalan, menu OK banget. Instalasi gue mulai via ikon Install yang udah tersedia di Desktop. Kira-kira langkahnya seperti ini:

  • Setelah beberapa langkah standar misalnya setting Timezone dll, akhirnya masuk ke pilihan Harddisk. Distro ini langsung mengajukan pilihan 1).Internal HDD dan 2). USB HDD, gue pilih USB HDD.
  • Kemudian masuk ke menu DrakX Partitioning dengan pilihan 1). Erase 2). Use Free 3). Custom. Gue pilih nomor 2).
  • Ada pilihan partisi mana saja yang akan digunakan: sda1, sda2, atau sdb1
  • Gue pilih sdb1 (sda adalah HDD pertama, sdb adalah HDD kedua, dalam kasus ini HDD USB)
  • Kalau ga salah nih ada pilihan untuk bikin partisi. Menurut yang gue baca2, minimal harus ada 2 partisi untuk linux, Root dan Swap. Jadinya HDD gue bagi 2 partisi.
  • Kalau ga salah terakhir ada pilihan Advanced, untuk pilih lokasi Loader-nya, default = hd0, karena gue takut MBR-nya Windows rusak, gue ganti jadi hd1.
  • Instalasi sukses dan minta komputer di-restart.
  • Setelah Restart, ada pilihan untuk booting ke PCLinuxOS atau ke Windows, gue pilih yang pertama, dan ini yang paling asyik, logo PCLinuxOS nya muncul, tapi desktop ga nongol. 10 menit gue tunggu tetap tidak terjadi apa-apa. Nah lo!, pasti ada kesalahan.
  • Akhirnya tombol power gue pencet, dan gue coba restart pake pilihan kedua (Windows), ini juga ga berhasil. Halah!.
  • Belum nyerah, gue restart lagi pake liveCD, berhasil masuk, trus baru gue browsing forum2 buat nyari kesalahan gue, kelihatannya karena gue pilih hd1 untuk Loader tapi pas booting si Loader kewalahan untuk mount partisi-nya si System alias ga bisa nemuin System yang terinstall.
  • Langkah terakhir: gue booting pakeCD XP, masuk ke recovery console, trus jalanin fixmbr. Restart, menu booting linux hilang dan bisa langsung masuk Windows.

Kesimpulan untuk PCLinuxOS:

  • Instalasi dinyatakan gagal pada kondisi System di-install pada USB HDD, Loader juga pada USB HDD. Alasan: Loader bisa dieksekusi tapi pas mau cari System, ga ketemu. Masih untung akhirnya Windows gue masih bisa diakses. Huih…
  • GUI OK, instalasi “ga terlalu” susah
  • Network jalan di DHCP walaupun pake LiveCD
  • Internet browser bisa via proxy local (ISA 2000) ==> gue sempat coba ini waktu browsing forum, gue rubah dulu setting proxy-nya.
  • Udah ada TightVNC (kalau ga salah) dan jalan waktu gue test koneksi ke salah satu server NT yang pake RealVNC.

Sebenarnya gue masih penasaran sama PCLinuxOS, tapi waktu gue browse forum2 serta dokumentasinya, gw ga nemuin komunitas PCLinuxOS Indonesia, tapi gue ketemu Komunitas Ubuntu Indonesia. Jadinya gue putusin maju terus nyoba install Ubuntu.

Kali ini skenario gue rubah, Ubuntu akan gue install di Internal, termasuk Boot Loadernya. Kalau MBR-nya Windows sampai rusak, bisa gue recover lagi pake fixmbr.

Sebelumnya Seperti sebelumnya, setelah beberapa setting seperti Time Zone dll, maka pada langkah 4 of 7 (pilihan partisi),  gue pilih Manual. Ada 4 partisi yang dikenal Ubuntu:

  1. /dev/sda1 (ntfs). Ini partisi Windows XP.
  2. /dev/sda2 (fat32). Ini partisi kedua Windows.
  3. /dev/sda3 (ext2). Ini partisi eks PCLOS.
  4. /dev/sda4 (swap). Ini juga partisi eks PCLOS

Gue pilih /dev/sda3 untuk instalasi. Setelah itu ada langkah untuk buat username. Pada langkah terakhir ada pilihan untuk GRUB. Gue biarin pada default = (hd0). Selesai instalasi, komputer restart dan ada menu Ubuntu untuk pilih O/S:

  • Pilihan 1, 2, dan 3: Ubuntu (Generic, Recovery Mode, dan Memtest86+)
  • Pilihan 4 dan 5: Windows (XP dan Others – ini terjadi karena ada 2 partisi Windows)

Gue pilih 1 dan berhasil masuk pada menu login. Hore !!

In yang Gue lakukan setelah berhasil install dan login.

Gue rubah menu booting supaya Windows XP jadi pilihan pertama, dan pilihan Windows kedua tidak perlu ada:

  • masuk ke Terminal (command text)
  • sudo su - (jadi root)
  • sudo gedit /boot/grub/menu.lst (file menu.lst akan dimunculkan via text editor)
  • cari baris ## End Default Options##
  • pindahin pilihan baris Windows XP jadi paling atas (sebenarnya bisa dengan mengganti baris “default(0) menjadi default(3)
  • hapus pilihan Windows ke dua (tidak ada Windows pada partisi ini)
  • save pake ikon save

 menulst.jpg

Hasilnya pada saat booting: Windows XP akan tampil paling atas, disusul pilihan Ubuntu pada baris-baris berikutnya.

Sekian dulu ah.

pinguin.jpg

Gue termasuk orang yang sama sekali baru di dunia linux (gapnux-gagap linux), walaupun sudah +- 10 tahun jadi pengguna komputer dari jaman DOS (Apple) sampai XP (belum sempat nyoba Vista Bo’). Beberapa minggu lalu waktu iseng-iseng browsing info tentang linux, rasanya gue bagai katak dalam tempurung – hi hi – ga nyangka kalau sudah begitu maraknya pengguna linux di luar sana.

Akhirnya gue putusin untuk nyoba (live CD dulu tentunya). Gue modal beli 3 distro yang bisa live CD di Gudang Linux : E-live, PCLinuxOS 2007, dan Ubuntu (7.10). Gue coba semuanya di IBM ThinkPad R52 gue (eh, punya kantor sih!). Spesifikasi standar: Centrino, 512 RAM, 40 GB HDD (tapi sisa free space 10 GB).

Ada beberapa fitur yang menurut gue (sesuai kebutuhan di kantor gue) perlu di cek di distro2 ini, karena kalau hanya bisa jalan di komputer stand alone di rumah dan konek pake dial up ke internet, rasanya kurang applicable untuk diarahkan ke tujuan yang lebih besar (baca ideal) yaitu mengganti O/S MS-based di tingkatan korporasi (pengguna kantoran) :

  • Installation: harus “segampang” Windows dan harus bisa diinstall di komputer yang udah punya XP (dual boot) – kalau ga bisa berarti gue ga bisa kerja !
  • User interface: menu ga boleh terlalu jauh nyimpang dari XP
  • Networking: harus bisa untuk dipakai di lingkungan DHCP W2003
  • Internet explorer: harus bisa dipakai konek via ISA 2000 dengan port 80
  • Print / file sharing: harus bisa dipake ngeprint via JetDirect HP yang diinstall di W2K serta harus bisa akses shared directory di Windows NT 4.0 (Domain di kantor gw masih pake NT-based – kuno yak!)
  • Remote: harus bisa dipakai untuk nge-remote server2 kantor (di Windows gue pake Remote Desktop dan VNC)
  • Last but most important: harus bisa dipakai untuk akses email di server MS Exchange 5.5

Banyak juga ya ternyata …

← Previous Page